(Dok. Pribadi)
DUNIA pendidikan tengah sakit. Gejalanya bukan hanya kesenjangan dan kualitas yang timpang, melainkan juga kegagalan mendasar: ia tidak lagi relevan dengan denyut nadi kehidupan.
Laporan UNESCO 2023 menyebutkan tiga krisis dramatis yang dihadapi dunia pendidikan: krisis ekuitas dan inklusi, krisis mutu, dan krisis relevansi. Krisis relevansi itu bersumber dari kegagalan sistem pendidikan dalam membekali generasi muda dengan kompetensi dan nilai hidup yang memadai untuk menghadapi kompleksitas zaman. Pendidikan sering kali terperangkap dalam paradigma instrumental yang sempit, hanya melihat peserta didik sebagai human resources untuk pasar kerja, sementara mengabaikan pengembangan mereka sebagai human-beings yang utuh.
Oleh karena itu, pendidikan seharusnya dipahami sebagai proses belajar holistik, yakni belajar bagaimana belajar, berbuat, dan bekerja dalam dunia yang berubah cepat, hidup berdampingan dengan sikap saling menghormati di tengah perbedaan yang kian nyata, serta menjalani kehidupan secara utuh dan berarti (UNESCO, 2023). Dengan demikian, ide dan sikap holistik diperlukan tidak hanya untuk satu negara, tetapi untuk seantero dunia dalam menghadapi tantangan global yang saling terhubung.
MAKNA DAN AKAR FILOSOFIS HOLISME
Kata holisme berasal dari holon bahasa Yunani yang secara harfiah berarti melihat dunia secara utuh, tidak terfragmentasi (Miller, 2007; Mahmoudi, dkk, 2012: 181). Konsep itu dapat dilacak dari khazanah pemikiran kuno. Studi Sahin, misalnya, menuntut pelatihan guru muslim dengan pedagogi holistik berdasarkan Al-Qur'an dan teladan Rasulullah SAW (Douglass, 2022).
Para filsuf muslim era keemasan seperti Al-Ghazali dan Ibnu Sina telah mempromosikan pedagogi berbasis spiritual dan moral (Lovat, 2020). Sementara itu, dari Barat, para pendidik reformis abad ke-20 seperti John Dewey dan Maria Montessori mengadvokasi pembelajaran berbasis pengalaman (Lovat, 2020). Namun, warisan pemikiran integratif itu sering terabaikan dalam praktik pendidikan modern yang terkotak-kotak.
Pendidikan holistik muncul sebagai respons kritis terhadap paradigma pendidikan mainstream yang mekanistik atau Cartesian-Newtonian, sebuah paradigma yang memandang dunia layaknya mesin dan pengetahuan dapat dipecah-pecah menjadi bagian-bagian terpisah yang linier (Mahmoudi, dkk, 2012; Crutchfield, 2020).
Pandangan dunia yang terfragmentasi itu melahirkan sistem pendidikan yang terkotak, yang mencerminkan dunia yang terpecah belah (Miller, 2007; Crutchfield, 2020). Pendidikan holistik ialah cara pandang dunia alternatif yang berupaya mengubah fondasi pendidikan dengan mengangkat keutuhan organik pengalaman manusia dan mendukung perjalanan eksistensial anak (Crutchfield, 2020).
EMPAT LEVEL KETERHUBUNGAN
Untuk kepentingan operasional, Ron Miller mengidentifikasi keutuhan dalam empat level: individu, masyarakat, planet, dan kosmos (Miller, 2000 dalam Mahmoudi, dkk, 2012: 181). Pertama, pengembangan individu secara utuh yang mencakup intelektual, emosi, fisik, sosial, estetika, dan spiritual (Miller, 2005: 2). Peserta didik harus dilihat sebagai whole being, bukan hanya otak yang harus diprogram.
Kedua, keutuhan komunitas. Pendidikan holistik mengubah sekolah menjadi masyarakat belajar yang demokratis dan menghargai keberagaman (Miller, 2005: 2; Mahmoudi, dkk, 2012: 181). Makna pendidikan diperoleh melalui interaksi yang mengembangkan rasa peduli dan tanggung jawab kolektif.
Ketiga, keutuhan planet. Semua proses belajar terjadi dalam konteks ketergantungan ekologi global (Mahmoudi, dkk, 2012: 182). Pendidikan holistik mendorong kesadaran lingkungan dan sikap ramah terhadap bumi.
Keempat, keutuhan kosmos, yang berkaitan dengan dimensi spiritual eksistensi manusia sebagai sumber identitas dan makna (Miller, 2005: 2). Merespons isu kosmos sangat penting untuk menghadapi persoalan kemanusiaan (Feng & Cheong, 2008: 80). Nilai-nilai universal dapat dipahami melalui pengalaman langsung.
PRINSIP DAN TUJUAN PENDIDIKAN HOLISTIK
Ada tiga prinsip dasar pendidikan holistik: ketersambungan (connectedness), inklusi, dan keseimbangan. Ketersambungan ialah prinsip inti yang mengubah pendekatan fragmentatif menjadi upaya memfasilitasi hubungan di setiap tingkat belajar, seperti menghubungkan berpikir integratif dan intuitif, tubuh dan otak, serta berbagai subjek pembelajaran.
Inklusi menunjuk pada pengakuan terhadap berbagai tipe peserta didik dengan menyediakan pendekatan yang beragam dan terbuka. Keseimbangan didasarkan pada konsep mengakui logika dan intuisi sebagai energi yang saling mengisi dalam kelas (Miller, dkk, 2005).
Tujuan belajar dalam pendekatan holistik ialah mengintegrasikan pengetahuan fisik dengan domain emosi dan spiritual (Crutchfield, 2020). Menghubungkan tubuh, otak, dan jiwa merupakan jantung dari pembelajaran holistik. Proses itu tidak sekadar perjalanan intelektual, tetapi ketercelupan (engagement) seluruh keberadaan, yang merupakan inti visi pembelajaran holistik (Miller, dkk, 2005).
Bahkan, mencari keutuhan bukanlah pencarian kesempurnaan; menerima dan memanfaatkan 'sisi gelap' atau kekurangan ialah bagian dari masuk lebih dalam ke misteri eksistensi diri dan kosmos.
Pendidikan holistik dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh kemampuan seseorang menjadi manusia secara utuh dan tujuan itu berlawanan dengan paham yang mereduksi pendidikan ke pelatihan untuk dunia kerja yang dinilai dengan tes standar (J Miller, 2007 dalam Mahmoudi, dkk, 2012). Ia serupa dengan perawatan kesehatan holistik yang mengadvokasi keterkaitan tubuh, pikiran, dan jiwa untuk menyeimbangkan sistem manusia secara utuh (Sankari, 2009).
Implikasinya dalam pendidikan tinggi sangat signifikan. Peran pendidikan tinggi tidak boleh sekadar mendistribusikan kecerdasan akademik atau kesuksesan ekonomi, tetapi juga harus mendukung dan mengembangkan seluruh dimensi manusia secara utuh para mahasiswa (Miller, 2011; O’Connor, 2012; Quinlan, 2011 dalam Crutchfield, 2020). Dengan menyeimbangkan kemampuan akademik dengan kesadaran diri yang tajam dan hubungan dengan tujuan hidup, lulusan dapat menerapkan pengetahuannya dengan bijak, penuh tanggung jawab sosial, dan berpedoman moral.
Dengan demikian, pendidikan holistik menawarkan landasan konseptual yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pokok seperti 'Dunia seperti apa yang kita inginkan?' dan 'Bagaimana seharusnya kita mendidik diri kita dan anak-anak kita?'. Ia paradigma yang penting dan mendesak, sebuah panggilan untuk transformasi dari pendidikan yang terkotak dan instrumental menuju pendidikan yang murni dan hidup, yang mengintegrasikan seluruh aspek kehidupan.
Mengapresiasi hal spiritual dan menghargai keutuhan manusia merupakan basis penting dari pendekatan itu (Gerber, 1991). Dalam konteks krisis relevansi yang diungkapkan UNESCO, pilihan itu ialah komitmen untuk mengembalikan hakikat pendidikan: membentuk manusia seutuhnya yang mampu membangun perdamaian, memperjuangkan keadilan, dan menjaga keberlanjutan planet untuk semua. Wallahu a’lam.

2 hours ago
1






















:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5443764/original/087417800_1765723952-Ada_robot_AI_bisa_kung_fu_di_Oppo_Flagship_Store_05.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439915/original/092451700_1765414469-MADRID.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5443743/original/090820000_1765722056-davide-bartesaghi-ac-milan-mencetak-gol-pembuka-serie-a.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5394026/original/020373200_1761623330-vini.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5437168/original/006946800_1765229221-AP25342741496384.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5384569/original/003882600_1760795116-FajarFikri5_SF_DenmarkOpen2025_PBSI_20251018.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439998/original/020698200_1765418673-weston_mckenni_juventus_pafos_fabio_ferrari_lapresse_via_ap.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439875/original/004558000_1765404713-000_87QT9HP.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5227327/original/000256500_1747809485-AP25138718858229.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5091266/original/036144200_1736661414-Grok.jpg)