Kasus Anak SD Gantung Diri di NTT: Ketika Si Kecil Menanggung Beban Orang Dewasa

9 hours ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Bercermin dari kasus anak SD gantung diri di Nusa Tenggara Timur (NTT), masyarakat kembali diingatkan bahwa tindakan bunuh diri pada anak tidak pernah berdiri pada satu penyebab tunggal. Berbagai faktor dapat berperan, termasuk tekanan ekonomi yang kerap luput disadari.

Belakangan, media sosial ramai menyoroti kasus bocah SD di NTT gantung diri, diduga karena kecewa tidak dibelikan pulpen dan buku tulis untuk sekolah. Namun, di balik peristiwa tersebut, terdapat beban psikologis yang jauh lebih kompleks.

Dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, menjelaskan bahwa faktor ekonomi memiliki peran besar dalam memberikan tekanan sistemik terhadap kesehatan mental anak.

"Masalah ekonomi sangat berpengaruh secara tidak langsung namun mendalam," kata Lahargo dalam keterangan tertulis yang diterima Health Liputan6.com pada Rabu, 4 Februari 2026.

Menurutnya, keterkaitan faktor ekonomi dengan kondisi mental anak dapat muncul dalam berbagai bentuk, antara lain:

  • Anak menyerap stres orang tua, meski tidak selalu memahami sumbernya
  • Anak merasa dirinya menjadi penyebab kesulitan keluarga
  • Muncul rasa bersalah dan tanggung jawab semu yang tidak sesuai usianya

Secara sistemik, Lahargo menegaskan bahwa kasus anak SD gantung diri bukan semata kegagalan individu atau keluarga. Ada persoalan struktural yang turut berperan, seperti:

  • Minimnya layanan kesehatan jiwa anak yang mudah diaksesRendahnya literasi kesehatan mental di masyarakat
  • Lemahnya sistem deteksi dini di sekolah dan komunitas

"Ketika anak memikul beban orang dewasa, itu tanda sistem belum cukup memeluk," ujarnya.

Faktor Risiko Bunuh Diri pada Anak

Lebih lanjut, Lahargo memaparkan sejumlah faktor risiko utama bunuh diri pada anak usia sekolah dasar. Berdasarkan kajian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan laporan tren nasional Kementerian Kesehatan, faktor-faktor tersebut meliputi:

Faktor individu:

  • Depresi, kecemasan berat
  • Kesulitan regulasi emosi
  • Perasaan bersalah berlebihan, merasa  menjadi beban.

Faktor keluarga:

  • Tekanan ekonomi kronis
  • Konflik keluarga, kekerasan verbal/fisik
  • Orangtua mengalami stres berat atau gangguan mental.

Faktor lingkungan:

  • Perundungan (bullying)
  • Isolasi sosial
  • Paparan konten bunuh diri di media/digital tanpa pendampingan.

Memahami Konsep Bunuh Diri pada Anak

Timbul tanya, ketika anak berpikir untuk bunuh diri, apakah mereka benar-benar ingin meninggal?

"Anak tidak sedang ingin mati, dia sedang tidak tahu bagaimana caranya hidup dengan beban yang terlalu berat," kata Lahargo.

Terkait pemahaman anak terhadap kematian, Lahargo menyebut bahwa anak usia sekitar 9 s.d 10 tahun memang sudah mulai memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen.

"Namun, pemahaman itu belum matang secara emosional dan kognitif," ujarnya.

Dari sudut pandang kesehatan jiwa, anak belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Cara berpikir mereka masih konkret dan hitam-putih.

Saat berada dalam tekanan berat, anak bisa sampai pada kesimpulan ekstrem, seperti 'Kalau aku tidak ada, masalah akan selesai'.

WHO juga mencatat bahwa bunuh diri bukan hanya isu orang dewasa. Risiko ini dapat muncul pada kelompok usia muda ketika distres psikologis bertemu dengan minimnya dukungan emosional.

"Pada anak, bunuh diri bukan soal kematian, tapi tentang keputusasaan yang tak punya bahasa," tambah Lahargo.

Read Entire Article