Mengenal Inflammatory Bowel Disease, Penyakit Radang Usus Kronis yang Bisa Ganggu Penyerapan Nutrisi

1 month ago 27
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online

Liputan6.com, Jakarta - Inflammatory Bowel Disease (IBD) menjadi salah satu penyakit radang kronis pada saluran cerna yang kasusnya terus meningkat di Indonesia. Kondisi ini meliputi dua bentuk utama IBD yaitu kolitis ulseratif dan Crohn’s disease. 

Keduanya dapat menyebabkan peradangan jangka panjang yang berdampak pada kualitas hidup pasien, mulai dari nyeri perut berulang, diare kronis, hingga gangguan penyerapan nutrisi.

Meski belum banyak dikenal masyarakat, IBD bukan sekadar masalah pencernaan biasa. Keluhan yang datang dan hilang sering membuat pasien menunda pemeriksaan, sehingga penyakit berpotensi semakin parah seperti disampaikan dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi hepatologi Profesor Ari Fahrial Syam.

Ari meminta untuk tidak mengabaikan gejala awal dari IBD yang biasanya ditandai dengan rasa sakit perut yang berulang. 

“IBD perlu dikenali sejak dini. Bila keluhan (sakit) perut berulang terjadi terus menerus, jangan dibiarkan. Deteksi dan terapi cepat akan mencegah komplikasi yang lebih berat,” ujarnya. 

Gejala IBD Sering Dianggap Masalah Pencernaan Biasa

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan IBD adalah gejala yang mirip dengan gangguan pencernaan umum. Pasien sering mengira dirinya hanya mengalami maag, infeksi usus, atau iritasi makanan. Padahal, IBD memiliki pola keluhan yang lebih khas dan menetap, seperti diare berdarah, penurunan berat badan tanpa sebab, dan rasa lelah ekstrem.

Prof. Ari menjelaskan bahwa banyak pasien datang dalam kondisi berat karena terlambat melakukan pemeriksaan. “Keluhan yang tidak membaik setelah diberikan obat standar untuk lambung patut dicurigai sebagai sesuatu yang lebih serius,” katanya. Ia menegaskan bahwa pemeriksaan endoskopi dan tes laboratorium dibutuhkan untuk memastikan diagnosis IBD.

Selain itu, faktor keturunan dan lingkungan juga dapat memicu munculnya penyakit ini. Kebiasaan merokok, stres, serta pola makan tidak seimbang sering memperburuk kondisi. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih awal, peluang pasien untuk mendapatkan penanganan optimal semakin besar.

IBD Tak Bisa Disembuhkan tapi Dikendalikan

Inflammatory Bowel Disease merupakan penyakit yang belum dapat disembuhkan total tetapi dapat dikendalikan melalui terapi jangka panjang.

Staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini mengatakan penanganan IBD meliputi obat antiinflamasi, imunomodulator, hingga terapi biologis sesuai kondisi masing-masing pasien. Tujuannya adalah menjaga peradangan tetap terkendali dan mencegah kekambuhan.

Lalu, pasien IBD juga tetap mendapatkan pengawasan medis yang konsisten. “Pasien IBD membutuhkan monitoring teratur untuk melihat perkembangan peradangan, apakah sedang aktif atau dalam fase remisi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pasien tidak boleh berhenti minum obat tanpa konsultasi dokter meski merasa sudah membaik.

Selain terapi medis, perubahan gaya hidup juga membantu mengurangi gejala. Pola makan yang teratur, manajemen stres, dan istirahat cukup merupakan bagian dari pengelolaan sehari-hari. Kombinasi perawatan komprehensif ini memungkinkan pasien menjalani kehidupan normal meski hidup dengan kondisi kronis.

Peran Edukasi Publik dan Deteksi Dini IBD

Meningkatnya kasus IBD di Indonesia membuat edukasi masyarakat menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan komplikasi. Banyak pasien tidak menyadari bahwa gejala yang dialaminya merupakan tanda peradangan kronis. Padahal, deteksi dini terbukti mampu menurunkan risiko operasi maupun kerusakan usus jangka panjang.

Ari menekankan bahwa tenaga kesehatan juga perlu meningkatkan kewaspadaan. “IBD tidak lagi menjadi penyakit yang jarang. Dokter di layanan primer harus mampu mengenali gejala yang mengarah pada IBD, sehingga pasien segera dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan,” katanya.

Ari juga mendorong masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri bila mengalami gejala persisten. Dengan meningkatnya literasi kesehatan, pasien dapat memperoleh terapi lebih cepat dan mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Read Entire Article